selamat datang sob,di BLOG SANDY PHOTO STUDIO
Blog ini akan berisi tentang petunjuk alat fotografi, teknik fotografi, filosofi dan berita seputar industri fotografi.

Sabtu, 11 Agustus 2012

Memilih sistem kamera

Memilih sistem kamera: Saku, DSLR, Micro four thirds, NEX, NX, Nikon 1

by Enche on November 10, 2011
Di saat sekarang, banyak sekali pilihan sistem kamera. Beberapa tahun yang lalu, hanya ada satu sistem kamera yang populer, yaitu kamera DSLR. Tapi kini muncul banyak saingan dari sistem kamera yang telah puluhan tahun mendominasi pasar ini.

Pada intinya, ada trade off antara ukuran kamera & lensa dengan kualitas foto dan kontrol kamera. Semakin besar sebuah kamera, semakin baik hasil fotonya dan juga semakin banyak tombol tombol dan fitur yang memudahkan fotografer.

Idealnya, sebuah sistem kamera berukuran relatif kecil, ringan dan menghasilkan foto yang sempurna, tapi sampai sekarang, masih sulit ditemukan sistem kamera ideal tersebut.
Maka dari itu, kita terpaksa memilih, jika kita ingin kamera yang kecil dan bisa dikantongin, maka kamera saku cocok bagi kita. Jika kita ingin kualitas dan kinerja kamera yang terbaik, sistem kamera DSLR cocok untuk itu.
Jika kita mencari kompromi antara kualitas foto, kinerja dan ukuran, maka ada sistem kamera baru seperti Micro four thirds, Sony NEX, Samsung NX, Ricoh GXR, Pentax Q dll.
Artikel ini akan membahas secara ringkas bersama ilustrasi yg membedakan antara satu sistem dengan yang lainnya. Mudah-mudahan yang baru ingin mencari sistem kamera baru dapat terbantu dengan ulasan saya.
Kamera saku
Jika ingin kamera yang mungil dan bisa masukkan ke saku, maka kamera saku merupakan pilihan yang cocok. Kamera saku memiliki lensa yang bergabung dengan badan kamera sehingga kita tidak bisa menukar lensa.
Ada beberapa jenis kamera saku yang tersedia di pasar, antara lain adalah kamera saku canggih dan kamera saku superzoom. Kamera saku canggih menghasilkan kualitas foto sedikit di atas kamera saku biasa. Kamera saku juga bisa merekam kamera foto format RAW.
Sedangkan kamera saku jalan-jalan adalah jenis kamera saku yang memiliki lensa dengan jangkauan lebar sampai sangat jauh atau tele. Kekurangan dari kamera ini adalah kualitas foto yang tidak begitu baik dan tidak bisa berganti lensa. Kamera semacam ini cocok untuk yang hobi jalan2 tapi tidak mau repot repot bawa kamera berukuran lebih besar.
Depan: Canon S95, Kiri: Nikon P300, Kanan: Panasonic LX5
Depan: Canon S95, Kiri: Nikon P300, Kanan: Panasonic LX5
Rekomendasi
  • Nikon Coolpix P300 – kamera kecil yang mudah dipakai, punya lensa yang lebar (24mm) dengan bukaan besar. Cukup baik di kondisi cahaya yang kurang baik.
  • Canon S95 – mungil tapi berkualitas tinggi. Menurut standar kamera saku kualitas foto yg dihasilkan sangat baik meskipun di kondisi cahaya yg krg baik. bisa merekam format RAW.
  • Sony HX5 kamera yg memiliki zoom 10x ideal buat jalan-jalan. Ada fitur seperti panaroma stiching yang cocok untuk mengambil foto panorama secara otomatis.
Nikon 1
Sistem ini dinamakan Nikon 1 karena sistem ini berdasarkan ukuran sensor gambar yang berukuran satu inci. Ukuran sensor ini ber-crop factor 2.7x artinya lebih kecil dari kamera DSLR yang ada di pasaran (1.5x) atau kamera Nikon full frame (FX) (1x).
Sistem baru Nikon ini lebih ditujukan kepada khalayak umum yang ingin kualitas foto yang lebih baik dan kamera yang lebih handal dari kamera saku tetapi tidak ingin sistem kamera sebesar sistem kamera DSLR. Fitur-fitur kamera ini dioptimalkan untuk orang yang belum memahami dasar fotografi.
Lebih lengkap dengan sistem Nikon 1 bisa dibaca di artikel Sistem kamera mungil Nikon V1 & J1
sistem-nikon-1
Micro Four Thirds
Jika ingin kamera berukuran tidak terlalu besar seperti kamera DSLR, tapi ingin kualitas foto yang lebih baik dari kamera saku, pilihan yang cocok adalah sistem kamera micro four thirds. Sistem ini didukung oleh Panasonic, Olympus, Leica dan beberapa produsen lensa lainnya. Kamera m43 ini berukuran jauh lebih kecil dari kamera DSLR karena tidak memiliki cermin untuk jendela bidik optikal.
Sensor gambar kamera juga lebih kecil dari kamera DSLR. Akibatnya desain lensa juga bisa ikut diperkecil. Sampai saat ini, lensa-lensa yang ditawarkan lensa sistem ini paling banyak dibandingkan dengan sistem bukan DSLR.
Sistem m43 adalah kompromi yang baik antara kualitas foto dan ukuran kamera & lensa.
Panasonic GF1, kamera m43 terlihat jauh lebih ramping dibandingkan dengan kamera DSLR pemula Canon
Panasonic GF1, kamera m43 terlihat jauh lebih ramping dibandingkan dengan kamera DSLR pemula Canon
Rekomendasi kamera M43
  • Panasonic GH2 kamera yang handal baik untuk foto maupun video. Punya jendela bidik built in dan layar LCD putar. Ukurannya relatif kecil dibandingkan dengan kamera DSLR.
  • Panasonic GX1 Kamera yang bentuknya relatif kecil tapi berkualitas tinggi. Disukai oleh street photographer.

Mirrorless system dengan sensor APS-C
Jika yang diinginkan adalah kualitas foto yang setara dengan kamera DSLR tapi ingin bodi kamera yang lebih kecil, ada dua pilihan yaitu sistem SONY NEX dan Samsung NX.
Keduanya memiliki konsep yang kurang lebih sama, yaitu memiliki sensor sebesar yang terdapat di kamera DSLR. Kekurangannya, meski bodi kameranya berukuran kecil, tapi banyak lensanya yang berukuran relatif besar dan panjang.
Sony NEX-5 (kiri) memiliki badan kamera yang sangat mungil, tapi lensanya hampir sebesar lensa kamera DSLR
Sony NEX-5 (kiri) memiliki badan kamera yang sangat mungil, tapi lensanya hampir sebesar lensa kamera DSLR
Rekomendasi
  • Sony NEX 5N kamera ini sangat mungil dan ringan tapi kualitas fotonya sangat baik meski di kondisi cahaya yg kurang baik. Tidak banyak tombol sehingga ganti setting agak merepotkan.
  • Samsung NX200. Punya antar muka yang sangat baik dan koleksi lensa yang sampai saat ini lebih baik dari SONY NEX. Tapi masih kurang populer di Indonesia.
Kamera DSLR
Jika menginginkan kamera yang dapat menghasilkan kualitas foto yg tinggi dengan jendela bidik optik dan koleksi lensa dan aksesoris lain yg lengkap, kamera DSLR boleh jadi andalan.
Secara garis besar, kamera DSLR dibagi dua macam berdasarkan besarnya sensor kamera. Kamera DSLR yg dipasaran biasanya bersensor APS-C Kamera bersensor lebih besar dari ASP-C sering disebut kamera full frame, setara dengan ukuran film.
Kamera DSLR bersensor APS-C terbagi atas beberapa model:
  • Model pemula biasanya murah, kinerjanya tidak begitu cepat dan fiturnya terbatas.
  • Model menengah ditujukan kepada yang ingin lebih serius mendalami fotografi atau membutuhkan kamera dgn kinerja lebih cepat. Biasanya bodinya lebih banyak tombol untuk memudahkan penggantian setting
  • Model canggih ditujukan untuk fotografer yang menyukai jenis fotografi aksi seperti olahraga, tari, jurnalisme, satwa liar, dst
Rekomendasi
  • Model pemula Canon 550D, Nikon D5100
  • Model menengah Canon 60D, Nikon D7000
  • Model canggih Canon 7D, Nikon D300s
Sedangkan kamera yang memiliki sensor full frame terdiri dari dua jenis model berdasarkan prioritasnya. Jika prioritasnya adalah ukuran foto, maka yang cocok adalah kamera berresolusi besar, seperti Nikon D3X, Canon 5D mk II, Sony A900.
Jika prioritasnya adalah kualitas foto di ISO tinggi dan kinerja kamera yang sangat tinggi untuk foto liputan seperti olahraga, maka yang cocok adalah kamera seperti Nikon D700, D3S atau Canon 1DX.
Kamera SLT
Kamera DSLR memilliki kelemahan saat merekam video. Pada umumnya, kinerja auto fokus sangat lamban dan tidak bisa mengikuti subjek yang bergerak. Sony mengeluarkan sistem kamera SLT (semi translucent mirror) untuk mengatasi masalah ini.
Dengan sistem ini, kinerja auto fokus di saat live view atau merekam video sangat baik. Kecepatan tembak per detiknya juga cepat (dengan batasan tertentu). Kelemahan sistem ini adalah tidak memiliki jendela bidik optik. Meskipun demikian, jendela bidik elektronik tersedia.
Sistem ini cocok dengan kamera DSLR Sony Alpha, jadi kita bisa mengunakan lensa-lensa Sony dan juga mengunakan aksesoris Sony.
Kelemahan jendela bidik elektronik adalah kualitasnya akan menurun saat di kondisi cahaya yang kurang baik, dan menguras baterai lebih cepat daripada kamera DSLR. Meski kita bisa mengambil foto dengan cepat, tapi settingnya lebih terbatas, misalnya hanya bisa mengunakan bukaan terbesar.
Sistem ini patut di pertimbangkan oleh yang gemar merekam video (selain foto) dan yang sudah memiliki banyak lensa DSLR Sony Alpha.
Lebih jauh tentang kelebihan dan kekurangan sistem ini : Sony Bangkit
Rekomendasi
  • Model pemula: Sony A33, A55
  • Model canggih: Sony a77
A77 adalah model terbaru kamera SLT Sony yang terbaru A77 adalah model terbaru kamera SLT Sony yang terbar

Selasa, 07 Agustus 2012

mengenal mode eksposur di kamera digital

Mode dalam kamera digital SLR

AUTO = Mode otomatis
Kamera akan mengukur cahaya, menginterpretasikannya dan kemudian mengatur setting aperture, shutter speed dan ISO secara otomatis. Ketika kamera merasa kondisi lingkungan kurang terang, maka kamera akan otomatis menyalakan lampu kilat untuk mengkompensasi kekurangan tersebut.
Mode automatis praktis digunakan kapan saja, tapi mengunakan mode ini berarti Anda tidak bisa mengendalikan setting kamera untuk fotografi yang kreatif.
P = Program Mode
Seperti mode otomatis, kamera akan menentukan setting aperture, shutter speed dan ISO secara otomatis. Bedanya dengan mode auto adalah, Anda bisa mengubah nilai bukaan atau shutter speed setelah itu, dan kamera akan mengkompensasikan secara otomatis perubahaan setting yang Anda lakukan. Di mode ini, kamera tidak akan mennyalakan lampu kilat meskipun kondisi lingkungan cukup gelap.
A / Av = Aperture priority
Di mode ini, kita menentukan besarnya bukaan lensa, dan kamera menentukan shutter speed (kecepatan) dan ISO yang sesuai.
Mode ini termasuk mode favorit saya, karena saya suka menentukan kedalaman ruang (depth of field). Contoh, bila saya sedang memotret foto potret, dan saya ingin latar belakangnya kabur, maka saya akan mengunakan bukaan besar seperti f/2.8 atau f/1.4. sedangkan kalau saya sedang memotret foto grup atau pemandangan, dan saya ingin semua yang berada dalam foto tajam (berada dalam fokus), maka saya set bukaan kecil f/8 atau f/16. Dengan mengendalikan bukaan saya tidak perlu repot repot menentukan shutter speed atau ISO.
Bukaan juga menentukan berapa banyak cahaya masuk. Jika saya berada ditempat yang gelap dan memerlukan lebih banyak cahaya, saya akan memperbesar bukaan (mengecilkan angka bukaan), supaya lebih banyak cahaya masuk.
Yang perlu diperhatikan dalam mode ini adalah bila cahaya lingkungan gelap, kamera terpaksa mengeset shutter speed yang rendah/lama. Hal ini dapat menimbulkan gambar yang kabur karena kamera goyang saat merekam gambar. Untuk itu, solusinya memakai tripod, atau mengkompensasi dengan menaikkan ISO.
S /TV = Shutter priority
Di mode ini, kita menentukan berapa cepat shutter speed, lalu kamera menentukan bukaan, dan ISO (bila Auto ISO aktif). Setting ini dipakai kalau kita ingin mendapatkan efek freeze (beku) atau efek motion (gerak).
Kalau kita set shutter speed tinggi seperti 1/640 detik, maka hasilnya gerakan orang atau benda yang sedang bergerak menjadi beku, sebaliknya kalau kita set 1/15 detik atau lebih rendah lagi benda/orang yang bergerak, maka kita akan menangkap motion blur. Teknik ini cocok untuk merekam gerakan air di pantai, gerakan air terjun ataupun merekam cahaya mobil yang lewat di malam hari. Seperti aperture, shutter speed juga mempengaruhi banyak sedikitnya cahaya yang masuk.
M = Manual Exposure
Di mode ini, kita menentukan setting bukaan, shutter speed dan ISO (bila Auto ISO tidak aktif)
Manual mode biasa saya pakai kalau memang saya mau mendapatkan hasil tertentu, contohnya bila saya ingin hasil foto agak gelap (low key fotografi) jadi hasil akhirnya agak misterius, dramatis. Saya juga pakai manual fokus bila ingin bikin siluet dari sebuah objek.
Saya juga sering memakai manual mode ketika kondisi ruangan / lingkungan berganti2 intensitas cahayanya sehingga membingungkan kamera. Contoh seperti di konser, lampunya menyala dengan intesitas dan arah yang berubah-ubah, kadang sangat terang, kadang sangat gelap.
Manual juga sering saya pakai kalau kondisi cahaya lingkungan konstan. Misalnya ketika pertandingan basket sekolah di dalam ruangan. Lampu-lampunyanya konstan. Pada saat tersebut, saya tinggal set aja bukaan, kecepatan dan ISO sebelum pertandingan dimulai. Hasil foto akan konsisten pencahayaannya dan saya dapat memakai mode ini sepanjang pertandingan. mudah bukan?
Tentunya, selera dan gaya pemakaian tiap orang berbeda-beda, yang penting jangan takut coba-coba dan latihan sehingga Anda bisa memahami dan bisa mengunakan mode-mode kamera DSLR ini secara maksimal.
Catatan, mode-mode ini juga banyak ditemui di kamera non-DSLR, seperti superzoom dan kamera saku canggih.

Mengapa lensa fix lebih baik dari lensa zoom

Lensa fix atau prime lens, adalah lensa yang tidak bisa zoom. Jadi untuk mengkomposisikan foto baik jauh atau dekat, Anda dipaksa untuk bergerak maju mundur. Bisa dibayangkan repotnya?
Banyak yang mungkin bertanya, untuk apa lensa fix, mendingan lensa zoom, apalagi banyak lensa fix yang lumayan mahal. Ada beberapa alasan kenapa lensa fix masih banyak diminati, terutama fotografer yang berpengalaman.

1. KECIL dan RINGAN

Sebagian besar lensa fix memiliki ukuran yang lebih kecil dan ringan. Hal ini membuat Anda lebih leluasa untuk bergerak dan tidak lekas capai bila membawa kamera Anda saat perjalanan jauh.

2. BUKAAN BESAR

Sebagian besar lensa fix juga memiliki maksimal bukaan besar seperti f/1.4 dan f/1.8. Di bandingkan dengan lensa zoom standar, bukaan f/1.8 dapat mengumpulkan cahaya 4-8 kali lebih banyak (2 sampai 3 stops) sehingga ideal untuk mengambil foto di ruangan yang gelap. Selain itu bukaan yang besar memudahkan Anda untuk membuat latar belakang menjadi blur.
Lensa Nikon 35mm (50mm) sangat populer untuk kamera pemula Nikon
Lensa Nikon 35mm (50mm) sangat populer untuk kamera pemula Nikon

3. KUALITAS FOTO

Hampir semua foto yang dihasilkan oleh lensa fix lebih tajam dan lebih baik daripada foto yang dihasilkan lensa zoom. Selain itu, distorsi juga lebih terkendali.

4. BAIK UNTUK BELAJAR

Lensa fix memaksa Anda untuk bergerak dan mencari sudut pandang yang lebih baik. Sehingga hasil foto Anda bisa lebih baik.

5. FOTO CLOSE-UP / MACRO

Semua lensa makro yang bagus adalah lensa fix. Ada juga lensa zoom yang memiliki kemampuan makro, tapi sangat jauh kualitasnya dibandingkan dengan lensa fix. (Lens makro adalah lensa yang bisa mengambil foto objek yang sangat kecil sehingga terlihat sangat besar. Contoh: serangga, bunga)
Dengan kelebihan-kelebihan tersebut maka lensa fix sangat penting sebagai alat fotografi di masa lalu dan dimasa depan.
Pengalaman saya: Lensa fix banyak saya pakai untuk foto potret, foto pertandingan bola basket, bola voli di dalam ruangan, foto candid, foto pemandangan

Sumber; infofotografi.com